Sabtu, Maret 01, 2008

Gambaran Umum Sub-Klaster Batik Sragen

Kabupaten Sragen memiliki 2 sub-sentra industri batik, yaitu Kecamatan Plupuh dan Kecamatan Masaran. Kedua kecamatan ini berdekatan dan dipisahkan oleh Sungai Bengawan Solo.

Data Pemda Sragen tahun 2005 menunjukkan ada 4.702 industri batik di Masaran dan Plupuh yang menyerap tenaga kerja sebanyak 12.653, dengan kapasitas produksi pada tahun 2005 menghasilkan batik jenis katun sebanyak kira-kira 50.000 potong, sementara batik jenis sutera ATBM mencapai 365.000 potong (http://www.sragen.go.id).

Sedangkan data Pemda Sragen tahun 2007 menyebutkan bahwa di dua sub-sentra batik tersebut terdapat 4.817 industri batik yang menyerap sekurangnya 7.072 tenaga kerja rumahan dan sebagian besar dari tenaga kerja tersebut adalah perempuan (Pemda Sragen, 2007, http://www.sragen.go.id/kliwonan.php).

Sumber data lain menyebutkan ada kira-kira 250 industri batik[1] (mikro, kecil, dan menengah) di dua sub-sentra batik tersebut dan mempekerjakan kira-kira 10.000-an pekerja rumahan.

Secara umum industri ini memberikan sumbangan sebesar 31,95% pada pendapatan daerah Sragen atau Rp 2.372.676.710.000 (Pemda Sragen, 2003; www.sragen.or.id).

Ada beberapa macam batik yang dihasilkan oleh sub-klaster batik Sragen. Bila diklasifikasikan perbedaan itu bisa dikategorikan antara lain:

No.

Kategori

Klasifikasi

1.

Motif

Modern & tradisional

2.

Bahan kain

Sutera ATM, sutera ATBM, sutera krep, sifon, primisima, katun doby, rayon, dll.

3.

Bahan warna

Kimia, alami, dan kombinasi

4.

Teknik produksi

Tulis, cap, semokan/gradasi, tolet/lukis, cabut (kombinasi printing & tulis)

5.

Bentuk produk akhir

Pakaian jadi, bahan pakaian, & lukisan

6.

Orientasi pasar

Domestik & ekspor

7.

Sistem produksi yang digunakan

Factory-based, sub-contracting, & putting-out system

Dominan jenis batik yang diproduksi di sub-klaster Sragen adalah batik tulis kain primisima, sutera ATBM, dan sutera ATM. Produk kain jarik masih terus dipertahankan, walaupun sebagian besar diproduksi dengan sistem cabut (kombinasi printing dan tulis). Jarik tulis ditujukan untuk segmen pasar kelas menengah-atas sedangkan batik cabut ditujukan untuk pasar kelas menengah-bawah. Menurut informasi dari staff lapangan Disperindagkop Sragen serta diperkuat oleh informasi dari pengusaha lokal, 80% produk batik di Sragen adalah jarik primisima yang diproduksi dengan teknik tulis dan cabut. Jarik tetap memiliki peluang pasar di pasar domestik karena jarik merupakan pakaian tradisional yang masih dipertahankan masyarakat Jawa di manapun mereka berada (di wilayah Jawa atau luar Jawa). Jenis pakaian ini menjadi pakaian wajib dalam acara-cara adat, misalnya acara pengantin.

Sumber: PPSG-UKSW & RAPID-Dikti 2004-2005, PPSG-UKSW & Hibah Bersaing 2007 & data sekunder dari Pemda Sragen (http://www.sragen.go.id), 2003-2007.


[1] Ada perbedaan data kuantitatif industri batik. Hal ini terjadi karena perbedaan definisi dalam menentukan kriteria industri.