Senin, Maret 03, 2008

Persaingan Tidak Sehat Antar Industri Batik di Sragen

Secara umum, industri kecil menengah (IKM) batik di Sragen belum menyadari pentingnya membentuk wadah organisasi industri batik. Mereka belum menyadari bahwa dengan bekerjasama membentuk satu organisasi yang solid, mereka dapat bekerjasama untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.

Yang terjadi selama ini justru persaingan yang tidak sehat di antara IKM batik di Sragen. Dari observasi selama tahun 2003-2007, persaingan tidak sehat tersebut teridentifikasikan sebagai berikut: penjiplakan motif, pembajakan terhadap pembatik yang dianggap memiliki ketrampilan yang baik, banting harga untuk mengacaukan harga pasar, dan “ngebomi”.

Istilah “ngebomi” merupakan istilah lokal yang diambil dari terminologi militer, untuk menggambarkan strategi berkolaborasi antar IKM batik dalam upaya mematikan entrepreneur baru yang dianggap sebagai “musuh bersama” (pesaing baru) dengan cara:

  • bersama-sama menaikkan upah pekerja selama beberapa hari, sehingga para pekerja batik yang bekerja pada entrepreneur baru tersebut pindah ke IKM-IKM mereka;
  • bersama-sama menyuap para pekerja batik yang bekerja pada entrepreneur baru tersebut dengan sejumlah uang, untuk menurunkan kualitas pekerjaan (desain, warna, batikan) sehingga kualitas produk entrepreneur baru tersebut sangat rendah atau bahkan rusak;
  • bersama-sama bergerilya membajak para pekerja batik yang bekerja di entrepreneur baru tersebut dengan memberikan sejumlah uang. Kolaborasi “ngebomi” dilakukan hanya selama beberapa hari sampai entrepreneur baru “mati”, jika tidak memiliki back up modal yang besar. Setelah “musuh bersama” tidak ada, kolaborasi antar IKM-IKM batik tersebut akan bubar, dan IKM-IKM batik yang eksis tersebut akan kembali melakukan persaingan antar mereka sendiri sebagaimana sebelumnya.

Sumber: field note tahun 2003-2007; PPSG-UKSW & RUT-Ristek, 2002-2003.