Kamis, Maret 27, 2008
Selamat Jalan Pak Meno!
Senin, Maret 24, 2008
Bintek PKBM
Selasa, Maret 18, 2008
Bad News
Kacamata Baru
Kamis, Maret 13, 2008
My Travel Grant Application
Rabu, Maret 05, 2008
Rencana Kerja Minggu Ini
- Laporan pajak tahunan Parahita Foundation, deadline 20 Maret 2008.
- Pertanggungjawaban keuangan penelitian HB ke KABAUK, deadline Senin 10 Maret 2008.
- Application form untuk Training Workshop on Engendering the School System 2008 yang diselenggarakan oleh Institute of Women's Studies Philippines, deadline 7 Maret 2008.
- Application form untuk Global Fund for Women deadline minggu ini juga.
Senin, Maret 03, 2008
Persaingan Tidak Sehat Antar Industri Batik di Sragen
Secara umum, industri kecil menengah (IKM) batik di Sragen belum menyadari pentingnya membentuk wadah organisasi industri batik. Mereka belum menyadari bahwa dengan bekerjasama membentuk satu organisasi yang solid, mereka dapat bekerjasama untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.
Yang terjadi selama ini justru persaingan yang tidak sehat di antara IKM batik di Sragen. Dari observasi selama tahun 2003-2007, persaingan tidak sehat tersebut teridentifikasikan sebagai berikut: penjiplakan motif, pembajakan terhadap pembatik yang dianggap memiliki ketrampilan yang baik, banting harga untuk mengacaukan harga pasar, dan “ngebomi”.
Istilah “ngebomi” merupakan istilah lokal yang diambil dari terminologi militer, untuk menggambarkan strategi berkolaborasi antar IKM batik dalam upaya mematikan entrepreneur baru yang dianggap sebagai “musuh bersama” (pesaing baru) dengan cara:
- bersama-sama menaikkan upah pekerja selama beberapa hari, sehingga para pekerja batik yang bekerja pada entrepreneur baru tersebut pindah ke IKM-IKM mereka;
- bersama-sama menyuap para pekerja batik yang bekerja pada entrepreneur baru tersebut dengan sejumlah uang, untuk menurunkan kualitas pekerjaan (desain, warna, batikan) sehingga kualitas produk entrepreneur baru tersebut sangat rendah atau bahkan rusak;
- bersama-sama bergerilya membajak para pekerja batik yang bekerja di entrepreneur baru tersebut dengan memberikan sejumlah uang. Kolaborasi “ngebomi” dilakukan hanya selama beberapa hari sampai entrepreneur baru “mati”, jika tidak memiliki back up modal yang besar. Setelah “musuh bersama” tidak ada, kolaborasi antar IKM-IKM batik tersebut akan bubar, dan IKM-IKM batik yang eksis tersebut akan kembali melakukan persaingan antar mereka sendiri sebagaimana sebelumnya.
Sumber: field note tahun 2003-2007; PPSG-UKSW & RUT-Ristek, 2002-2003.
PAUD: Kelompok Bermain Satya Parahita
Banyak penelitian membuktikan bahwa pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan bagian penting dari dasar pembentukan kepribadian dan mengasah kecerdasan. Kecerdasan manusia telah terbentuk 50% ketika ia berumur 4 tahun, 80% ketika ia berumur 8 tahun dan mencapai titik puncaknya ketika ia berumur 18 tahun. Informasi dasar yang diterima anak sejak usia dini cenderung bertahan dan mempengaruhi sikap dan perilakunya sepanjang hayat. Kedua hal ini menunjukkan pentingnya pemberian rangsangan pendidikan terhadap anak usia dini, di samping pemenuhan aspek gizi dan kesehatan (penelitian Abdullah, 2003).
Kebutuhan PAUD ini dipertegas oleh UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 yang berkaitan dengan PAUD. Menurut UU ”pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut” (UU Sisdiknas No. 20, 2003).
Untuk mewujudkan PAUD, pada tahun 2007 Puslit Gender Universitas Kristen Satya Wacana, bekerjasama dengan Parahita Foundation, komponen masyarakat, dan financial support dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, mendirikan Kelompok Bermain Satya Parahita.
Nama Satya Parahita secara etimologis diambil dari Bahasa Sansekerta. Kata satya berarti setia dan kata parahita berarti memperhatikan kesejahteraan orang lain. Secara umum arti kata satya parahita berarti setia memperjuangkan kesejahteraan orang lain, dalam hal ini kesejahteraan masyarakat marginal yang menjadi sasaran program.
PAUD Kelompok Bermain Satya Parahita merupakan pendidikan non-formal yang menggunakan pendekatan holistik atau terintegrasi antara Kelompok Bermain (KB) – Bina Keluarga Balita (BKB) – Posyandu melalui model PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) yang berperspektif gender.
Tujuan program Kelompok Bermain Satya Parahita antara lain untuk memberikan kesempatan pada anak untuk mengembangkan kecerdasan gandanya (multiple intelligence); mengembangkan ketrampilan hidup (life skill) pada anak sebagai bekal menghadapi kehidupan selanjutnya; dan memberikan kesempatan belajar dengan pendekatan bermain (learning by playing, learning by doing).
Sasaran program PAUD ini adalah anak usia dini (2-4 tahun) beserta orang tuanya. Saat ini Kelompok Bermain Satya Parahita memiliki 29 murid yang berusia 1,5 – 4 tahun. Waktu belajar 3 kali seminggu, setiap hari Senin, Rabu dan Jumat. Kegiatan belajar dibagi menjadi 2 kelas berdasarkan usia murid. Kelas kecil (usia 1,5 - 2,5 tahun) diampu oleh Ibu Sri Maena dan kelas besar (usia 2,5 - 4 tahun) diampu oleh Ibu Maria Dolvianti Bora. Tempat belajar di Pondok Sang Timur, Jalan Tidore, RT 02/RW VII/Kelurahan Tegalrejo – Kecamatan Argomulyo, Salatiga. Tempat belajar ini adalah gedung pertemuan milik Gereja Katolik Kristus Raja yang dipinjamkan kepada kami sebagai bentuk komitmennya terhadap program PAUD.
Bagi Universitas Kristen Satya Wacana, Kelompok Bermain Satya Parahita merupakan salah satu wadah untuk melaksanakan Tri Darma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan (non-formal) dan penelitian yang sekaligus merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat.
Sumber: PPSG-UKSW & KB Satya Parahita 2007.
Sabtu, Maret 01, 2008
Environmental Problems in Sragen Batik Sub-Cluster
The Government of Sragen Regency said that in Sragen batik sub-cluster, there are 4.817 batik industries that employ 7.072 batik workers (Pemda Sragen, 2007, http://www.sragen.go.id/kliwonan.php). With regard to that batik industries number, everyday batik industries in Sragen sub-cluster definitely need much clean water to fulfill their production processes (dyeing and nglorod/cooking fabric to remove wax). Each batik industry needs minimum 5 m3 clean water in approximate per day to fulfill its production processes necessaries. Then 80% of the water used in production processes become wastewater (CGRS-SWCU & RAPID-Dikti, 2004-2005).
Currently batik artisans in Sragen sub-cluster prefer to use synthetic dyestuff than to use natural dyestuff because natural dyeing process needs more times than synthetic chemical dyeing process. They considered synthetic chemical dyeing process is not costs efficient.
Unfortunately, they do not know the dangerousness of the synthetic chemical dyestuff remained in the batik wastewater. They usually channel the batik wastewater directly to drainage system that flows to rice fields and
They do not know that their habit will cause environmental problems. That untreated wastewater has also leaked through the wells as seen in
Based on these identify environmental issues there is a need to formulate an action program of knowledge transfer from academia (CGRS-SWCU) to people (batik artisans) at the grassroots, to solve these problems.
Sources: CGRS-SWCU & RAPID-Dikti, 2004-2005 & CGRS-SWCU & Hibah Bersaing-Dikti, 2007 and Pemda Sragen, 2007, (http://www.sragen.go.id/kliwonan.php).
Gambaran Umum Sub-Klaster Batik Sragen
Kabupaten Sragen memiliki 2 sub-sentra industri batik, yaitu Kecamatan Plupuh dan Kecamatan Masaran. Kedua kecamatan ini berdekatan dan dipisahkan oleh Sungai Bengawan Solo.
Data Pemda Sragen tahun 2005 menunjukkan ada 4.702 industri batik di Masaran dan Plupuh yang menyerap tenaga kerja sebanyak 12.653, dengan kapasitas produksi pada tahun 2005 menghasilkan batik jenis katun sebanyak kira-kira 50.000 potong, sementara batik jenis sutera ATBM mencapai 365.000 potong (http://www.sragen.go.id).
Sedangkan data Pemda Sragen tahun 2007 menyebutkan bahwa di dua sub-sentra batik tersebut terdapat 4.817 industri batik yang menyerap sekurangnya 7.072 tenaga kerja rumahan dan sebagian besar dari tenaga kerja tersebut adalah perempuan (Pemda Sragen, 2007, http://www.sragen.go.id/kliwonan.php).
Sumber data lain menyebutkan ada kira-kira 250 industri batik[1] (mikro, kecil, dan menengah) di dua sub-sentra batik tersebut dan mempekerjakan kira-kira 10.000-an pekerja rumahan.
Secara umum industri ini memberikan sumbangan sebesar 31,95% pada pendapatan daerah Sragen atau Rp 2.372.676.710.000 (Pemda Sragen, 2003; www.sragen.or.id).
Ada beberapa macam batik yang dihasilkan oleh sub-klaster batik Sragen. Bila diklasifikasikan perbedaan itu bisa dikategorikan antara lain:
| No. | Kategori | Klasifikasi |
| 1. | Motif | Modern & tradisional |
| 2. | Bahan kain | Sutera ATM, sutera ATBM, sutera krep, sifon, primisima, katun doby, rayon, dll. |
| 3. | Bahan warna | Kimia, alami, dan kombinasi |
| 4. | Teknik produksi | Tulis, cap, semokan/gradasi, tolet/lukis, cabut (kombinasi printing & tulis) |
| 5. | Bentuk produk akhir | Pakaian jadi, bahan pakaian, & lukisan |
| 6. | Orientasi pasar | Domestik & ekspor |
| 7. | Sistem produksi yang digunakan | Factory-based, sub-contracting, & putting-out system |
Dominan jenis batik yang diproduksi di sub-klaster Sragen adalah batik tulis kain primisima, sutera ATBM, dan sutera ATM. Produk kain jarik masih terus dipertahankan, walaupun sebagian besar diproduksi dengan sistem cabut (kombinasi printing dan tulis). Jarik tulis ditujukan untuk segmen pasar kelas menengah-atas sedangkan batik cabut ditujukan untuk pasar kelas menengah-bawah. Menurut informasi dari staff lapangan Disperindagkop Sragen serta diperkuat oleh informasi dari pengusaha lokal, 80% produk batik di Sragen adalah jarik primisima yang diproduksi dengan teknik tulis dan cabut. Jarik tetap memiliki peluang pasar di pasar domestik karena jarik merupakan pakaian tradisional yang masih dipertahankan masyarakat Jawa di manapun mereka berada (di wilayah Jawa atau luar Jawa). Jenis pakaian ini menjadi pakaian wajib dalam acara-cara adat, misalnya acara pengantin.
Sumber: PPSG-UKSW & RAPID-Dikti 2004-2005, PPSG-UKSW & Hibah Bersaing 2007 & data sekunder dari Pemda Sragen (http://www.sragen.go.id), 2003-2007.
[1] Ada perbedaan data kuantitatif industri batik. Hal ini terjadi karena perbedaan definisi dalam menentukan kriteria industri.
Seorang Teman Baru dari Belanda
Kamis kemarin saya dan Mas Agung pergi ke
Bahaya Potensial yang Mengancam Kesehatan Pengrajin Batik Sragen
Ketika saya melakukan observasi untuk program RAPID tahun 2004 di sub-klaster Sragen, saya mengidentifikasi adanya bahaya potensial yang mengancam kesehatan pengrajin batik di
| Jenis pekerjaan | Bahaya dari bahan kimia | Bahaya dari sikap kerja yang tidak ergonomis |
| Ngeblat (mengkopi motif pada kain putih) | Tidak ada. | Kelelahan pada mata akibat bekerja dengan melihat dekat dan melakukan akomodasi secara terus menerus. |
| Sikap kerja yang tidak benar (tidak ergonomis) mengakibatkan: a. Sakit pada otot akibat aliran darah tidak lancar. b. Gangguan fungsi dan bentuk otot. | ||
| Nyanting (menempelkan lilin pada kain yang sudah digambar) | Bahan-bahan kimia yang terkandung dalam lilin yang digunakan dalam proses pembatikan (nyanting) bila terkena kulit dapat mengakibatkan iritasi dan gangguan kulit lainnya dalam bentuk gatal-gatal, kulit kering dan pecah-pecah, kemerah-merahan, koreng yang tidak sembuh-sembuh. | Kelelahan pada mata akibat bekerja dengan melihat dekat dan melakukan akomodasi secara terus menerus. Tanda dan gejala: a.Mata berair, mengantuk, silau dan sukar dibuka, b. Mata terasa tegang, sakit, sakit kepala dan penglihatan menjadi kabur c. Kadang-kadang disertai lesu, pusing, muntah, kejang-kejang dan migren sakit kepala |
| Uap zat kimia lilin dan asap minyak tanah dari kompor dapat mengakibatkan iritasi dan peradangan pada saluran pernafasan dengan gejala batuk, pilek, sesak nafas, demam. | Sikap kerja yang tidak benar (tidak ergonomis) mengakibatkan: a. Sakit pada otot akibat aliran darah tidak lancar. b. Gangguan fungsi dan bentuk otot. | |
| Adanya kemungkinan menderita dehidrasi, mengingat jam kerja yanting yang lama (8-12 jam sehari) tanpa minum yang cukup (hanya 1 gelas besar teh sehari = 500 ml). Sedangkan kebutuhan air minum per orang menurut | ||
| Proses Pewarnaan | Uap zat kimia bahan pewarna dapat mengakibatkan iritasi dan peradangan pada saluran pernafasan dengan batuk –batuk pilek, sesak nafas, demam. | Iritasi kulit akibat kebiasaan bekerja tanpa menggunakan sarung tangan & sepatu kerja. |
| Iritasi mata dengan gejala mata kemerah-merahan, pedih berair. | Keracunan akibat kebiasaan tidak mencuci tangan dengan bersih setelah melakukan proses pewarnaan. | |
| Nglorod (penghilangan lilin batik dengan cara merebus kain) | Uap zat kimia dapat mengakibatkan iritasi dan peradangan saluran pernafasan dengan gejala batuk, pilek, sesak nafas, demam. | Jika tidak hati-hati dalam mengerjakan proses nglorod dapat menyebabkan luka bakar akibat air mendidih. |
| Iritasi mata dengan gejala mata kemerah-merahan, pedih berair. Setiap bahan kimia sangat berbahaya bagi mata. Bahan kimia yang bersifat basa lebih berbahaya dibandingkan dengan bahan kimia yang bersifat asam, karena bahan basa dapat memberikan kerusakan yang berat pada mata yang akan dapat mengakibatkan kebutaan. Meskipun bahan kimia asam tidak berbahaya, tetapi asam yang keras juga akan mengakibatkan kerusakan mata seperti yang ditimbulkan oleh bahan kimia basa. |
Meskipun para pengrajin batik di sub-klaster Sragen sudah bekerja membatik selama puluhan tahun, namun pada umumnya mereka belum menyadari adanya bahaya yang mengancam kesehatannya. Hal ini disebabkan keterbatasan pengetahuan mereka dan keterbatasan akses informasi, mengingat pendidikan mereka yang terbatas.
Sumber: field note PPSG-UKSW & RAPID-Dikti 2004-2005 & data sekunder dari Depkes RI 2003 (www.depkes.go.id) dan Institute of Medicine (www.iom.edu).
