Jumat, April 25, 2008

Pasporku sudah jadi

Rabu kemarin aku ke Kantor Imigrasi lagi untuk ambil paspor. Puji Tuhan, akhirnya pasporku jadi juga, setelah menunggu berhari-hari. Jadi aku bisa segera pesan tiket ke Philippines nih. Dari Kantor Imigrasi aku terus naik bis kecil menuju UNDIP Tembalang untuk pertemuan koordinasi penelitian PKHP dengan 22 perguruan tinggi di Jateng. Aku belum pernah ke UNDIP Tembalang. Ternyata tempat pertemuan (gedung Lemlit UNDIP) agak jauh letaknya dari jalan raya, maka aku naik ojek, ongkosnya Rp 5.000. Pertemuan mulai jam 11.00, selesai jam 15.30. Lumayan capek. Sampai rumah sudah jam 17.30. Tanggal 8 Mei nanti akan ada pertemuan koordinasi lagi di UNTAG.

Selasa, April 22, 2008

Sidik Jari Hilang

Hari Jumat aku ke Kantor Imigrasi untuk ambil paspor. Ternyata sampai sana pasporku belum dicetak. Mas Ardan petugas loket B2 bilang kalau sidik jariku belum bisa dikirim ke Jakarta karena pengambilannya tidak sempurna. Kata petugas di sana 2% pengambilan sidik jari dengan scanner mengalami kegagalan, dan kebetulan punyaku termasuk yang gagal. Aku tentu saja jadi agak jengkel. Itu kan bukan kesalahanku, tapi kesalahan petugas yang ambil sidik jariku. Akhirnya hari itu juga sidik jariku diambil lagi, oleh petugas yang berbeda. Pasporku jadi kira-kira hari Selasa atau Rabu minggu ini. Mudah-mudahan benar, jadi aku bisa segera urus tiketku.

Akhirnya aku punya BYON M31W

Jumat kemarin, pulang dari Kantor Imigrasi Semarang aku ambil BYON M31W di Nogaptek. Windows Vista Starter sudah diinstall, pokoknya sudah siap pakai, kata mbak Puri, pramuniaganya. Di rumah aku buka. Tampilan luarnya cukup memuaskan. Kualitas caselogic-nya juga bagus. Performance Windows Vista Starter juga sangat bagus, cepat. Pokoknya aku cukup puas deh dengan BYON ini, meskipun Ms. Office-nya masih pakai yang 2003. Aku pengin download Ms. Office 2007 dari www.katz.ca, sih tapi aku takut, soalnya aku tidak begitu yakin, kalau download dari situ itu termasuk legal apa illegal.

Rabu, April 16, 2008

Beli Notebook BYON M31W

Aku dah lama niat beli notebook dengan harga ekonomis. Maklum budget-nya mepet, cuma 4-5 juta. Beberapa hari sebelumnya aku sudah browsing di internet. Ada beberapa pilihan dengan harga terjangkau sih, Asus EEEPC 2/4G, Quantel T8/E10, Zyrex Anoa. Tapi aku kurang sreg dengan HDDnya yang sangat mini, cuma 2/4 GB. Selain itu juga gak ada DVD-RWnya. Aku pikir nantinya agak ribet, masih harus beli external DVD-RW. Selain itu juga OSnya Linux. Aku gak familier dengan Linux. Hari Sabtu and Minggu kemarin aku plus kakak ipar and keponakan2 survey harga notebook di Osas and Nogaptek. Sebelumnya sih udah browsing harga di www.bhinneka.com. Pramuniaga di Osas and Nogaptek justru rekomendasi merk lokal BYON M31W yang punya konsep Common Building Blocks (standarisasi), jadi kelak bisa diupgrade dengan mudah dan spare partnya juga mudah ditemukan. Juga minggu ini lagi ada promo. Dengan harga 5,5 juta sudah dapet spec yang lumayan, free 1GB DDR2 plus Windows Vista starter. Hari Senin setelah urus paspor aku survey di Plaza Simpang Lima. Harga notebook di sana lebih murah 100 ribuan sih. Tapi aku belum putuskan beli yang mana sih, masih bingung. Aku rencana mau beli di pameran komputer di Solo tgl 16-20 April, siapa tahu ada pilihan lagi dan lebih murah. Namun setelah browsing ke www.byon.co.id aku yakin dan putuskan untuk beli BYON M31W ini. Ini type termurah. Di www.bhinneka.com lagi ada discount, harganya jadi 4,99 juta. Aku telepon ke salesnya, ternyata itu kosongan, belum ada OSnya. Kalau pakai OS Windows XP Pro tambah 1,5 juta, XP Home 800 ribu, and ongkir Jakarta-Salatiga Rp 140.000. Itupun gak dapat free apa-apa. Yah ternyata lebih mahal dari Nogaptek & Osas. Ya sudah, aku telepon ke Nogaptek. Pramuniaga minta aku order sekarang saja, mumpung masih promo, jadi masih dapat free upgrade 1 GB and included Windows Vista starter. Ya sudah aku putuskan untuk kasih DP 1 juta ke Nogaptek. Cuma dapat discount seribu (Walah!). Karena stock barang tidak ada, jadi nunggu 1-2 hari lagi. Oh ya ini spec BYON M31W.

Product Specifications: * Processor: Intel ICPM 540 1.86GHz/1MB L2 Cache/533 * Chipset: SIS M672 + SIS968 * Memory: 512 MB DDR2/667 (2xslots SODIMM Up To 2GB) * Video Type: Mirage 3+ (memory 256MB Share) * Display Size: 14.1" WXGA TFT * Display Max. Resolution: 1280 x 800 * Display Technology: VibrantView TFT * Hard Drive: 80 GB 5400 RPM * Optical Drive: DVD Supermulti (Support DVD-RAM) * Network Speed: 10 / 100 Mbps * Wireless Network Type: InviLink 802.11BG * Wireless Network Protocol: IEEE 802.11a, IEEE 802.11b, IEEE 802.11g * Card Reader: SD, MMC, Memory Stick / Stick PRO * Interface Provided: 4x USB 2.0, VGA, LAN, Audio * Dimension (WHD): 337 x 35.4 x 245 mm * Weight: 2.4 kg * Camera: 1.3 MP CMOS. FREE UPGRADE TO 1GB DDR2 & FREE WINDOWS VISTA STARTER

Urus paspor

Hari Senin tgl 14 April kemarin aku ke Semarang lagi buat wawancara, foto, and bayar paspor. Pagi-pagi aku sudah nunggu bis patas di halte Jetis. Dapat patas Rajawali, tapi berdiri. Puji Tuhan, di Karangjati ada penumpang yang turun, jadi bisa dapat tempat duduk. Seperti biasa, turun di Tugu Muda and naik bis Damri kecil ke kantor Imigrasi. Sampai sana belum banyak yang antri, baru satu ibu yang minggu lalu aku temui. Jam 9 dipanggil untuk wawancara. Kemudian nunggu 1 jam untuk dipanggil ke loket pembayaran, bayar Rp 270.000. Kemudian nunggu 1 jam lagi untuk difoto biometrik and sidik jari. Aku baru tahu ternyata 10 jari diambil sidik jarinya semua, aku kira hanya jempol doang seperti cap jempol itu. 10 menit kemudian dipanggil lagi untuk tanda tangan paspor. Selesai sudah and pasporku bisa diambil 4 hari kemudian. Jadi Jumat tgl 18 April aku bisa ambil pasporku. Ternyata prosedur buat paspor relatif mudah, hanya nunggunya saja yang lama.

Rabu, April 09, 2008

Buat Paspor

Hari Senin tanggal 7 April kemarin aku ke kantor imigrasi Semarang untuk buat paspor. Aku sudah bertekad akan urus sendiri tanpa lewat calo, meskipun kata temanku akan lebih lama dibandingkan lewat calo. Tapi aku memang ingin tahu prosedur pembuatan paspor, biar kelak bisa urus sendiri untuk perpanjangannya. Senin pagi aku naik bis patas ke Semarang. Turun di Tugu Muda, kemudian ganti naik bis Damri kecil jurusan Ngalian, turun di halte depan kantor imigrasi. Sampai di kantor tersebut, langsung disambut calo-calo paspor. Kemudian aku tanya ke petugas di loket 1, bagaimana prosedur pembuatan paspor. Aku disuruh ambil formulir di loket, bayar Rp 11.000 (tanpa dikasih kwitansi), lalu aku isi formulirnya (dengan gangguan beberapa calo yang pura-pura mau bantu). Setelah aku lengkapi dengan foko KTP, KK, ijasah terakhir, dan surat keterangan dari PPSG-UKSW aku masukkan formulir ke loket. Ternyata dokumenku tidak lengkap, kurang surat permohonan pembuatan paspor dari UKSW dan foto 3x4. Jadi aku pulang. Hari Selasa aku kembali ke kantor imigrasi untuk masukkan formulir dan dokumen persyaratannya. Tanggal 14 April, hari Senin aku disuruh kembali ke sana untuk foto biometrik dan bayar paspor. Entah harus bayar berapa, yang pasti lebih murah daripada lewat calo. Beberapa teman bilang kalau lewat calo harus bayar Rp 600 - 750 ribu.

Kamis, April 03, 2008

Kabar Gembira

Hari Selasa tgl 1 April 2008 aku dapat kabar gembira dari Tatis. Aku diterima jadi participant di Training/Workshop on Gender Fair Education yang diselenggarakan oleh Institute of Women’s Studies, St. Scholastica’s College, Manila Philippines tanggal 13-23 Mei 2008. Seluruh biaya ditanggung, kecuali uang saku. Setelah aku kabari mom, ternyata mom malah bilang dia yang akan nyangoni aku. Thank mom, thank God. Berarti aku harus segera buat paspor. Hari ini aku browsing prosedur buat paspor, ternyata tidak sulit-sulit amat dan jika diurus sendiri biaya resminya hanya Rp 270.000. Aku akan urus sendiri saja, nggak lewat calo biar bisa irit. PR lain yang menanti adalah buat paper dan rencana kerja untuk dipresentasikan di sana kelak. Selain itu juga harus mulai siapkan barang-barang kecil khas Indonesia yang bisa dipamerkan di sana. Aku ada rencana untuk bawa scarf batiknya Pak Warsidi Klaten yang pakai pewarna alam.